Giman
nihh kabarnya sobat ? semoga sehat wa’afiat yaa .. J
yukk kita baca yuk . hehe .
Nah,
hakikat masalah yang membebani kehidupan kita adalah sebuah pesan yang datang
dari Allah swt, sebuah pesan dari alam bawah sadar kita. Sebuah pesan yang
berbunyi,
"Perbaiki diri, evaluasi diri, Tingkatkan
ketakwaan, & mendekatlah pada-Ku, jalan menuju kemuliaan dirimu sudah Aku
berikan lewat ujian masalah ini."
Ketahuilah
bahwa sesungguhnya dalam kehidupan ini kita sering mendapatkan sesuatu yang
tidak kita sukai. Oleh karena itu daripada memendam
sakit hati kepada kehidupan, adalah lebih baik bila kita belajar untuk menyukai apapun yang kita
dapatkan. Dengan menerapkan sikap ini kita sudah merubah posisi diri kita,
yaitu bila kita suka berkeluh kesah ataupun marah-marah atas segala masalah
kehidupan kita. Maka saat itu posisi diri kita adalah sebagai KORBAN. Sebagai
object yang tidak berdaya mengahadapi kondisi dan situasi yang tidak
menyenangkan.
Nah,
alih-alih berkeluh kesah. Bukankah lebih baik Kita terima saja dengan ikhlas
segala keadaan itu, toh... itu adalah situasi yang dimana kita sudah dalam
posisi tidak bisa untuk menghindarinya. Mau tidak mau situasi itu harus kita
lalui... Nah, dengan merubah sikap kita tersebut. Posisi kita berubah dari
sekedar KORBAN, kita sekarang menjadi PELAKU atau Subject.
Sebagai pelaku, maka kitapun punya kemampuan untuk merubah Masalah menjadi
Berkah.
Pandangan
kita akan berubah, tidak lagi memandang masalah sebagai sebuah beban. Namun memandang masalah
sebagai sebuah kesempatan
untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita. Sebuah kesempatan untuk memperbaiki
keadaan, dan menghapus kesalahan di masa lalu. Sehingga dengan begitu kita
malah bisa mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, atas masalah yang diberikan
kepada kita. Yang dengan masalah itu bisa menjadi sebuah batu pijakan untuk
kita meraih kesuksesan di masa mendatang. Inilah, ciri-ciri karakter
orang-orang Sukses yang harus juga kita miliki.
Life is Never
Flat
Kehidupan
di dunia tidak pernah datar dan lurus-lurus saja. Life is never flat and life
is never straight. Pengusaha sukses tidak akan selamanya sukses suatu saat ia
harus besiap menghadapi kerugian. Pelajar yang pintar nan cerdas tidak akan
selalu mendapatkan nilai di atas rata-rata, suatu saat ia harus siap dengan
nilai yang tidak memuaskan. Orang yang badannya selalu sehat, harus siap jika
suatu hari tubuhnya dilanda kesakitan. Di suatu waktu, kebahagiaan tiba
memenuhi ruang di dalam hati, tapi di lain waktu seseorang harus siap ketika
kesedihan kunjung.
Ini
adalah wujud bahwa semua yang ada di dunia ini diciptakan oleh Allah swt. secara
berpasangan dan semuanya tidak pernah diam dalam suatu keadaan. Terus berputar,
silih berganti.
Dua Macam Ujian
Kita
sering merasa bahagia jika yang terjadi pada diri kita adalah sesuatu yang kita
harapkan, sesuatu yang kita inginkan dan kita cita-citakan. Kaya raya, bisnis
sukses, memiliki tubuh yang selalu sehat, memiliki keluarga yang sakinah,
mawaddah dan rahmah. Itu adalah beberapa contoh harapan dan keinginan hidup.
Sebaliknya,
kita merasa sengsara, sedih, dan berduka ketika mendapatkan segala hal yang
tidak kita inginkan. Misalnya, sakit. Siapa yang mau sakit? Tidak akan ada kan,
karena semua orang hanya menginginkan sehat. Misalnya juga bangkrut. Siapa
pengusaha yang ingin usahanya gulung tikar? Oh... tidak bisa! Begitu kata Sule,
he...he...he... Atau tidak lulus Ujian Nasional (UN) yang momok menakutkan bagi
para pelajar kelas IX dan XII. Saya kira tidak ada pelajar yang ingin gagal UN,
semuanya pasti hanya menginginkan satu kata saja tidak yang lain yaitu
L-U-L-U-S alias lulus.
Islam
memandang bahwa bagaimana pun kondisi yang sedang terjadi, semua adalah ujian
kehidupan. Mau kesenangan atau kesengsaraan, mau kebahagiaan ataupun kesedihan,
dua hal ini adalah ujian. Dan, memperkuat realitas tersebut, Ibnu Abbas
mengungkapkan bahwa sesungguhnya dunia adalah ruang ujian. Innaddun-yā dārul
balā. Demikian tegasnya.
Namun,
kebanyakan manusia baru merasa sedang diuji oleh Allah ketika mendapatkan
sesuatu yang tidak diharapkan kedatangannya. Jika ini terjadi pada diri
seseorang, Umar bin Khathab lebih dahsyat menegaskan bahwa orang tersebut
adalah makhdū’un ‘an ‘aqlihi, tertipu oleh akalnya sendiri. Pertanyaan saya
adalah, mungkinkah ada orang yang tertipu oleh akalnya sendiri? Jika ada, orang
tersebut adalah orang yang sangat bodoh. Dan label ini diberikan Umar putra
Khathab kepada orang yang tidak merasa sedang diuji oleh Allah dengan segala
bentuk kesenangan hidup.
Terima
kasih sudah bergabung bersama kami di outbound malang, semooga apa yang kami
berikan bermanfaat bagi kita semua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar